Tampilkan postingan dengan label Agama Dan Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Dan Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2011

KEMISKINAN ITU UJIAN ALLAH


Punya pendidikan tinggi merupakan impian tiap orang. Tapi, bagaimana jika kemiskinan terus menghadang. Jangankan untuk biaya kuliah, buat makan saja susah.

Berikut ini penelusuran dan wawancara Eramuslim dengan seorang pemulung yang kini bisa terus kuliah di jurusan akuntansi di Pamulang, Tangerang. Mahasiswi berjilbab itu bernama Ming Ming Sari Nuryanti.

Sudah berapa lama Ming Ming jadi pemulung?

Sejak tahun 2004. Waktu itu mau masuk SMU. Karena penghasilan ayah semakin tidak menentu, kami sekeluarga menjadi pemulung.

Sekeluarga?

Iya. Setiap hari, saya, ayah, ibu, dan lima adik saya berjalan selama 3 sampai 4 jam mencari gelas mineral, botol mineral bekas, dan kardus. Kecuali adik yang baru kelas 2 SD yang tidak ikut.

***

Tempat tinggal Ming Ming berada di perbatasan antara Bogor dan Tangerang. Tepatnya di daerah Rumpin. Dari Serpong kurang lebih berjarak 40 kilometer. Kawasan itu terkenal dengan tempat penggalian pasir, batu kali, dan bahan bangunan lain. Tidak heran jika sepanjang jalan itu kerap dipadati truk dan suasana jalan yang penuh debu. Di sepanjang jalan itulah keluarga pemulung ini memunguti gelas dan botol mineral bekas dengan menggunakan karung.

Tiap hari, mereka berangkat sekitar jam 2 siang. Pilihan jam itu diambil karena Ming Ming dan adik-adik sudah pulang dari sekolah. Selain itu, bertepatan dengan jam berangkat sang ayah menuju tempat kerja di kawasan Ancol.

Setelah berjalan selama satu setengah sampai dua jam, sang ayah pun naik angkot menuju tempat kerja. Kemudian, ibu dan enam anak itu pun kembali menuju rumah. Sepanjang jalan pergi pulang itulah, mereka memunguti gelas dan botol mineral bekas.

Berapa banyak hasil yang bisa dipungut?

Nggak tentu. Kadang-kadang dapat 3 kilo. Kadang-kadang, nggak nyampe sekilo. Kalau cuaca hujan bisa lebih parah. Tapi, rata-rata per hari sekitar 2 kiloan.

Kalau dirupiahkan?

Sekilo harganya 5 ribu. Jadi, per hari kami dapat sekitar 10 ribu rupiah.

Apa segitu cukup buat 9 orang per hari?

Ya dicukup-cukupin. Alhamdulillah, kan ada tambahan dari penghasilan ayah. Walau tidak menentu, tapi lumayan buat keperluan hidup.

***

Ming Ming menjelaskan bahwa uang yang mereka dapatkan per hari diprioritaskan buat makan adik-adik dan biaya sekolah mereka. Sementara Ming Ming sendiri sudah terbiasa hanya makan sekali sehari. Terutama di malam hari.

Selain itu, mereka tidak dibingungkan dengan persoalan kontrak rumah. Karena selama ini mereka tinggal di lahan yang pemiliknya masih teman ayah Ming Ming. Di tempat itulah, mereka mendirikan gubuk sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.

Berapa hari sekali, pengepul datang ke rumah Ming Ming untuk menimbang dan membayar hasil pungutan mereka.

Kalau lagi beruntung, mereka bisa dapat gelas dan botol air mineral bekas di tempat pesta pernikahan atau sunatan. Sayangnya, mereka harus menunggu acara selesai. Menunggu acara pesta itu biasanya antara jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Selama 5 jam itu, Ming Ming sebagai anak sulung, ibu dan dua adiknya berkantuk-kantuk di tengah keramaian dan hiruk pikuk pesta.

Kalau di hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga pemulung ini juga punya kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain. Mereka tidak berkeliling kampung, berwisata, dan silaturahim ke handai taulan. Mereka justru memperpanjang rute memulung, karena biasanya di hari raya itu, barang-barang yang mereka cari tersedia lebih banyak dari hari-hari biasa.

Ming Ming tidak malu jadi pemulung?

Awalnya berat sekali. Apalagi jalan yang kami lalui biasa dilalui teman-teman sekolah saya di SMU N 1 Rumpin. Tapi, karena tekad untuk bisa membiayai sekolah dan cinta saya dengan adik-adik, saya jadi biasa. Nggak malu lagi.

Dari mana Ming Ming belajar Islam?

Sejak di SMU. Waktu itu, saya ikut rohis. Di rohis itulah, saya belajar Islam lewat mentoring seminggu sekali yang diadakan sekolah.

Ketika masuk kuliah, saya ikut rohis. Alhamdulillah, di situlah saya bisa terus belajar Islam.

Orang tua tidak masalah kalau Ming Ming memakai busana muslimah?

Alhamdulillah, nggak. Mereka welcome saja. Bahkan sekarang, lima adik perempuan saya juga sudah pakai jilbab.

***

Walau sudah mengenakan busana muslimah dengan jilbab yang lumayan panjang, Ming Ming dan adik-adik tidak merasa risih untuk tetap menjadi pemulung. Mereka biasa membawa karung, memunguti gelas dan botol air mineral bekas, juga kardus. Bahkan, Ming Ming pun sudah terbiasa menumpang truk. Walaupun, ia harus naik di belakang.

Ming Ming kuliah di mana?

Di Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1.

Maaf, apa cukup pendapatan Ming Ming untuk biaya kuliah?

Jelas nggak. Tapi, buat saya, kemiskinan itu ujian dari Allah supaya kita bisa sabar dan istiqamah. Dengan tekad itu, saya yakin bisa terus kuliah.

Walaupun, di semester pertama, saya nyaris keluar. Karena nggak punya uang buat biaya satu semester yang jumlahnya satu juta lebih. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa terbayar.

***

Di awal-awal kuliah, muslimah kelahiran tahun 90 ini memang benar-benar melakukan hal yang bisa dianggap impossible. Tanpa uang memadai, ia bertekad kuat bisa masuk kuliah.

Ketika berangkat kuliah, sang ibu hanya memberikan ongkos ke Ming Ming secukupnya. Artinya, cuma ala kadarnya. Setelah dihitung-hitung, ongkos hanya cukup untuk pergi saja. Itu pun ada satu angkot yang tidak masuk hitungan alias harus jalan kaki. Sementara pulang, ia harus memutar otak supaya bisa sampai ke rumah. Dan itu ia lakukan setiap hari.

Sebagai gambaran, jarak antara kampus dan rumah harus ditempuh Ming Ming dengan naik empat kali angkot. Setiap angkot rata-rata menarik tarif untuk jarak yang ditempuh Ming Ming sekitar 3 ribu rupiah. Kecuali satu angkot di antara empat angkot itu yang menarik tarif 5 ribu rupiah. Karena jarak tempuhnya memang maksimal. Jadi, yang mesti disiapkan Ming Ming untuk sekali naik sekitar 14 ribu rupiah.

Di antara trik Ming Ming adalah ia pulang dari kuliah dengan berjalan kaki sejauh yang ia kuat. Sambil berjalan pulang itulah, Ming Ming mengeluarkan karung yang sudah ia siapkan. Sepanjang jalan dari Pamulang menuju Serpong, ia melepas status kemahasiswaannya dan kembali menjadi pemulung.

Jadi, jangankan kebayang untuk jajan, makan siang, dan nongkrong seperti mahasiswa kebanyakan; bisa sampai ke rumah saja bingungnya bukan main.

Sekarang apa Ming Ming masih pulang pergi dari kampus ke rumah dan menjadi pemulung sepulang kuliah?

Saat ini, alhamdulillah, saya dan teman-teman UKM Muslim (Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim) sudah membuat unit bisnis. Di antaranya, toko muslim. Dan saya dipercayakan teman-teman sebagai penjaga toko.

Seminggu sekali saya baru pulang. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir sama.

Jadi Ming Ming tidak jadi pemulung lagi?

Tetap jadi pemulung. Kalau saya pulang ke rumah, saya tetap memanfaatkan perjalanan pulang dengan mencari barang bekas. Bahkan, saya ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu, menjadi bisnis daur ulang. Dan ini memang butuh modal lumayan besar.

Cita-cita Ming Ming?

Saya ingin menjadi da'i di jalan Allah. Dalam artian, dakwah yang lebih luas. Bukan hanya ngisi ceramah, tapi ingin mengembangkan potensi yang saya punya untuk berjuang di jalan Allah.

Kamis, 03 Maret 2011

Seorang Pemuda Mencari Guru Agama


Ada seorang pemuda yang lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia diminta kedua orangtuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai dari pinggiran kota.

Pemuda : ”Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”
Kyai : ”Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.”

Pemuda : ”Anda yakin? Sedangkan Profesor di Amerika dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
Kyai : ”Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”

Pemuda : ”Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) ”Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?”
Kyai : ”Saya tidak marah... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.”

Pemuda : ”Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”
Kyai : ”Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda : ”Tentu saja saya merasakan sakit.”
Kyai : ”Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”

Pemuda : ”Ya!”
Kyai : ”Tunjukan pada saya wujud sakit itu!”

Pemuda : ”Saya tidak bisa.”
Kyai : ”Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya."

Kyai : ”Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”
Pemuda : ”Tidak.

Kyai : ”Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?”
Pemuda : ”Tidak.”

Kyai : ”Itulah yang dinamakan takdir.”

Kiyai : ”Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”
Pemuda : “Kulit.”

Kyai : “Terbuat dari apa pipi anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : “Sakit.”

Kyai : “Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditempatkan bersama syaitan di neraka..”

Pemuda itu langsung tertunduk dan memeluk kyai tersebut sambil memohonnya untuk mengajarkan Islam lebih banyak lagi.

Selasa, 01 Maret 2011

Guru dan Murid


Alkisah ada seorang ustad atau guru yang memiliki beberapa orang murid, namun diantara murid-muridnya ada seorang murid yang begitu menonjol. Murid tersebut dianugerahi akal yang cerdas di atas rata-rata tetapi ia memiliki sifat yang sombong. Suatu hari sang guru memanggil muridnya tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang.
Guru : Dunia ini penuh cobaan, apakah engkau siap menghadapi dunia dan segala godaannya?

Murid : Dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki, insyaAllah saya siap.

Guru : Cobaan di dunia ini bukan hanya kesusahan tetapi juga kemudahan. Banyak orang lolos dari cobaan berupa kesulitan tapi gagal menghadapi cobaan berupa kemudahan.

Murid : Dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki, insyaAllah saya mampu lulus dan lolos dari berbagai cobaan baik kesulitan ataupun kemudahan.

Guru : Bagaimana jika cobaan dan godaan tersebut berupa harta, jabatan, dan keluarga?

Murid : Dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki, akan saya hadapi segala macam cobaan tersebut. Apakah ia harta, tahta ataupun keluarga saya pasti mampu menghadapinya.

Guru : Seandainya engkau dalam perjalanan menuju suatu tempat yang indah, tapi diperjalanan langkahmu terhadang oleh seekor anjing, apa yang akan kau lakukan?

Murid : Akan saya lawan dan usir anjing tersebut sehingga saya mampu melanjutkan perjalanan.

Guru : Bagaimana jika anjing tersebut ada banyak bukan Cuma satu, mungkin tiga, lima atau sepuluh. Apa yang akan kau lakukan?

Murid : (terdiam kemudian menunduk).

Guru : Mengapa engkau diam wahai muridku? Tidak kah kau akan melawannya seperti halnya engkau melawan cobaan berupa harta, tahta ataupun keluarga?

Guru : Dari pada engkau melawan anjing-anjing tersebut, mengapa kau tak meminta kepada pemilik anjing tersebut untuk menyingkirkan anjing-anjing tersebut?

Guru : Dalam menghadapi cobaan hidup ini hendaknya kau selalu meminta petunjuk dan perlindungan dari Allah, sebab kau tak akan mampu menjalani hidup ini sendiri dengan ilmu dan kemampuan yang kau miliki.

Semoga kisah tadi bermanfaat bagi kita semua terutama diri saya pribadi, semoga Allah senantiasa membimbing dan melindungi kita.

Senin, 28 Februari 2011

Pengikut Agama Allah







Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) AllahItulah yang pasti menang.(Al Maidah 54-56)


Sudah menjadi lumrah bahwa pertarungan antara haq dan bathil (shiroo’ bainal haq wal bathil) selalu ada golongan yang berebut empati. Golongan tersebut adalah golongan pengikut agama Allah, dan golongan pengikut syaitan. Allah telah menjamin kemenangan di dunia dan keberuntungan di akhirat bagi pengikut agama Allah. Pengikut agama Allah bukahlah sebuah nama harokah, bukan klaim suatu golongan, bukan pula bendera, tetapi suatu golongan yang Allah ridho padanya. Seorang yang mengaku sebagai pengikut agama Allah atau hizbullah atau partainya Allah, harus memenuhi beberapa akhlaq dasar (Akhaaqul Asaasiyah) sebagai mana disebutkan dalam surat al Maidah ayat 54-56. Beberapa akhlaq dasar yang tersebut adalah:


1. Mahabbatullah (Cinta Allah)


Orang yang sudah terpaut cintanya kepada seseorang, maka dia akan melakukan dengan penuh kerelaan apa yang dimintanya. Bergitu pula seharusnya, seorang yang mencintai Allah, maka akan terefleksikan dalam ibadahnya kepada Allah, sehingga ia tekut, semangat, dan menjaga ibadahnya dengan baik. Tentulah apabila kita mencintai Allah, setiap permintaan kita yang baik untuk kita pasti Allah kabulkan. Pandangan hatinya adalah kebenaran (begitu kata aa gym dalam nasyidnya berjudul mata hati) karena di sana Allah berperan sebagai pemberi petunjuk, yang sanggup menembus hijab. Dan hanya orang yang berimanlah dia mencintai Allah.


Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS 2:165)


Orang yang mencintai kekasihnya maka hatinya agar bergetar bila disebut nama kekasihnya, maka bila seorang suami/istri disebut nama pasangannya tidak bergetar, perlu ditanya ulang kecintaannyaa

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,(QS 8:2)


2. Adzillatin ‘alal Mukminin (Lemah lembut terhadap mukminin)


Sekarang sudah sering kita mengetahui, bahwa ada fenomena suatu jama’ah yang lebih suka bersifat keras terhadap mukmin/jama’ah islam yang lain. Dengan mudah mereka melabelkan kafir, mubtadi’ dsb. Sebagai pengikut agama Allah, tidaklah layak kita meniru akhlaq mereka. Dan apabila kita menerima celaan, fitnahan dari mereka, cukuplah kita memberi klarifikasi seperlunya tanpa perlu menyerang balik mereka. Karena orang yang melabelkan kekafiran, bila tidak terbukti ada pada dirinya, maka label kafir akan kembali kepada si pengucap tersebut, na’udzubillah. Satu kalimat saja yang kita ucapkan ternyata dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat!


Rasulullah bersabda:


“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat?” [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah].


“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu?.” [HR. Bukhari dari Abu Dzar].


Hendaklah setiap mukmin bertawadhu’ kepada saudaranya. Dalam tafsir ibnu katsir disebutkan bahwa sifat Rasulullah adalah menggelikan dan mematikan. Menggelikan adalah dapat membuat tertawa sahabatnya, mematikan adalah bila berperang dapat pula membunuh musuh-musuhnya.


Rasulullah saw bersabada,


“Bukan golongan kami, orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda.”


Beliau juga melarangan mukmin menghunuskan pedang di hadapan sesama mukmin, meskipun hanya bermain-main. Begitu hati-hatinya Rasulullah saw memberi rambu-rambu dalam menyayangi sesama mukmin.


3. A’izzatin ‘alal Kafirin


Kesempurnaan sifat kaum mukminin adalah selain bersikap lemah lembut terhadap mukminin juga bersifat tegas terhada kaum kafirin. Karena kebenaran tidak akan bertemu dan sejalan dengan kemungkaran. Tegas dalam artian bukan semena-mena. Tegas bahwa ini aqidah kita, tegas dalam menjalankan syariat, bukan dalam membunuh para kaum kafir dzimmy.


Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS 48:29)


4. Jihadu fii sabilillah wa ‘adamul khoufu minannaas (Berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada manusia)


Jihad berasal dari akar kata bahasa Arab ( Jahada ), berarti mengerahkan segenap potensi dengan ucapan dan tindakan. Di antara pecahan kata dari kata jihad adalah mujahadah (optimalisasi amal shalih), jahdun ( kerja keras) dan juhdun ( usaha ).


Abdullah ibnu Abbas mengatakan: Jihad adalah mengoptimalkan potensi di jalan Allah dengan tanpa rasa takut sedikitpun dari cemoohan dan ejekan orang lain.


Al-Muqatil berkata: Jihad adalah bekerja untuk Allah dengan sungguh-sungguh dan beribadah kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Abdullah bin al-Mubarak berkata: Memerangi hawa nafsu termasuk jihad.


DR. Said Ramadhan al-Buthi juga menjelaskan, bahwa berjihad adalah optimalisasi upaya dalam rangka meninggikan Kalimat Allah. Perang di Jalan Allah adalah bentuk jihad tertinggi untuk memenangkan agama Allah dan melaksanakan hukum-hukumNya secara total. Jihad dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi, sebagaimana penjelasan Nabi Muhammad saw, bahwa jihad adalah Dzarwatu Sinam al-Islam ( Puncak Ajaran Islam ).


Dari Abi Hurairah r.a berkata: Dikatakan kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, amalan apa yang menyamai Jihad di jalan Allah ? Nabi berkata: Tidak ada. ( Nabi menjawab seperti itu setiap ditanya pertanyaan tersebut ) Kemudian beliau bersabda: Perumpamaan Mujahid di jalan Allah seperti orang yang berpuasa dan melakukan qiyam dengan melantunkan ayat-ayat Allah tanpa jenuh dan bosan, sampai mujahid tersebut pulang dari berjihad (HR. Bukhari Muslim).


Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS 9:24)


Seorang mukmin adalah seharusnya adalah mujahid, dia akan berani mengatakan kebenaran dan tidak urung mengatakan yang haq walaupun ditakut-takuti oleh orang lain.


5. Al Wala lillahi, lirrosulihi, lilmu’miniin.


Termasuk ke dalam pokok Aqidah al Islamiyyah, bahwa seorang muslim wajib berpegang teguh dengan Aqidah ini, memberikan wala' (loyalitas) kecintaan kepada ahlinya dan memberikan sikap bara' (antipati) kebencian terhadap musuh-musuhnya.


Sikap ini juga diajarkan dalam diennya Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (QS Al Maidah: 51).


Dan Allah juga berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia." (QS Al Mumtahanah: 1).


Bahkan Allah telah mengaharamkan kaum muslimin berloyalitas kepada orang-orang kafir walaupun mereka kerabat dekatnya. Allah berfirman,


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudaramu pemimpin-pemimpinmu. Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zholim." (QS At Taubah: 23).


Maka Allah hanya mewajibkan memberikan loyalitas kepada ahlinya yaitu orang-orang mu'min. Allah berfirman,


"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang." (QS Al Maidah: 55-56).


Khotimah


Itulah karunia Allah yang diberikanNya kepada orang yang dikehendakiNya, yakni orang-orang yang mempunyai sifat ini. Karena Allah adalah Maha Luas KaruniaNya dan Maha Mengetahui siapa hamba-hambaNya yang berhak mendapatkannya. Semoga kita dikumpulkan bersama pengikut agama-agama Allah atau hizbullah.